Datu Abdul Karim, Generasi Kelima dari Kesultanan Bulungan ‘Bapak Asuh Suku Tertua di Kaltara’

Redaksi

Datu Abdul Karim, Generasi Kelima Pewaris Kawasan Gunung Batu Benau dari Kesultanan Bulungan yang didalamnya terdapat masyarakat Punan Batu Benau, yang selalu dirawat dan didampinginya.
Datu Abdul Karim, Generasi Kelima Pewaris Kawasan Gunung Batu Benau dari Kesultanan Bulungan yang didalamnya terdapat masyarakat Punan Batu Benau, yang selalu dirawat dan didampinginya.

BULUNGAN-TANJUNGNEWS.COM- Wilayah pemerintahan Kesultanan Bulungan yang mencakup hampir seluruh area yang saat ini menjadi Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Sudah menjadi kewajiban pemimpin kesultanan untuk melindungi segenap masyarakat yang ada di wilayah kekuasaanya tak terkecuali wilayah Gunung Batu Benau yang didalamnya ada komunitas masyarakat Punan Batu Benau yang hingga saat ini masih setia hidup berburu dan meramu di dalam rimba hutan Kaltara.

Datu Abdul Karim Keturunan Kelima Ahli Waris Kawasan Gunung Batu Benau Sajau dari Kesultanan Bulungan yang juga pendaping dan Pembina Suku Punan Batu saat diwawancara pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2024 di Hutan Kota Bundayati mengatakan.

“Kami pernah sampaikan, anugrah Kalpataru bagi masyarakat Punan Batu Benau, untuk merawat dan menjaga hutan. Merupakan tanggungjawab sangat berat sekali, karena untuk mempertahankan (hutan) banyak ancaman dari luar,”katanya.

Bahkan pihaknya, seringkali meminta Pemerintah Daerah (Pemda) dan pemerintah pusat untuk melihat langsung kawasan yang menjadi tempat hidup Masyarakat Hukum Adat (MHA) Punan Batu Benau Sajau.

“Bagimana kami menjaga kami dapat ancaman terus dari luar, mereka (pihak perusahaan) mengatakan kami (Punan Batu) tak punya hak atas kawasan hutan ini. Karena merupakan hutan negara. Kami (purusahaan) punya izin,”kata Datu Abdul Karim, menirukan curhatan anak asuhnya.

Baca Juga  Komisi Informasi Kaltara Ingatkan Pentingnya Keterbukaan Informasi Jelang Pencoblosan

Permasalahan lain, Datu Abdul Karim meminta ketegasan menyangkut batas desa, yang selama ini seringkali menimbulkan masalah.

“Masalah batas desa, jadi masalah saat ini, supaya bisa segara diproses,”tegasnya.

Untuk luasan lahan ruang hidup Suku Punan Batu Benau, saat ini mengalami penyusutan namun setelah diterbitkanya Surat Keputusan (SK) Bupati Bulungan tentang perlindungan hukum adat. Kawasan tersebut memiliki payung hukum saat ini memiliki luas tidak kurang dari 18 ribu hektar.

Menurutnya, secara historis kawasan Gunung Batu Benau adalah hak ahli waris dari Kesultanan Bulungan sejak masa kekuasaan Sultan Maulana Muhammad Djalalluddin (1931-1956).

“Saya ini keturunan kelima untuk mendapingi mereka,”singkatnya.

Untuk keyakinan masyarakat Punan Batu Benau, Datu Karim mengatakan sebagian masih mengaanut aliran kepercayaan. Sedangkan jumlah mereka sekitar 35 Kepala Keluarga (KK) dengan 106 jiwa, yang bermukim di kawasan liang-liang Goa dan sekitar Gunung Batu Benau.

Baca Juga  Sangat Membantu Masyarakat, Pemprov Kembali Gulirkan Pasang Listrik Gratis untuk 1000 KK

Untuk layanan kesehatan bagi Punan Batu Benau, dirinya mengaku sudah diberikan oleh Pemda Bulungan dengan mengirimkan dokter dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) untuk memeriksa kesehatan mereka secara berkala sebulan sekali.

“Pemda sudah melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala sebulan sekali, datangkan dokter dari Puskesmas. Bupati juga menjanjikan pendidikan sekolah rimba dan lainnya yang kita tunggu,”harapnya.

Punan Batu Suku Tertua, Penutur Bahasa Lastalak

Sedangkan untuk mata pencaharian Punan Batu Benau, sampai hari ini, kata Datu Karim, masih bergantung dari hutan.

“Pencaharian mereka ini dari hasil hutan, sekarang ini hasil hutan kawasan tempat tinggal mereka terasa betul berkurangnya. Kehidupan Punan Batu, dicari hari ini dimakan hari ini, tidak ada aktivitas jual beli traksaksional dengan masyarakat luar menggunakan uang. Mereka masih menggunakan barter (tukar barang),”jelasnya.

Terkait apakah Punan Batu memiliki aturan hukum adat untuk melindungi kawasan hutan mereka. Datu Abdul Karim menjalaskan, meski mereka memiliki hukum adat yang harus dipatuhi oleh seluruh komunitas Punan Batu. Hal tersebut tidak bersifat tertulis, dan seringkali diabaikan oleh masyarakat diluar mereka.

Baca Juga  Pemprov Optimis Penurunan Stunting Kaltara Capai Target Nasional

“Hukum adat sudah ada, tidak secara tertulis. Mereka larang, tapi belum ada pegangan (payung hukum) sebelumnya. Sungai mereka, sudah diracun dan di setrum,”ulasnya.

Datu Karim menambahkan, hasil penelitian ilmiah menyatakan genetika Suku Punan Batu merupakan yang tertua dibandingkan suku asli lain yang hidup di Kabuten Bulungan. Baik Suku Tidung, Bulungan maupun Dayak.

“Hasil penelitian, mereka ini suku tertua di Kalimantan Utara. Bisa jadi mereka induk dari kita,”tambahnya.

Karena interaksi sejak masa pemerintahan Kesultanan Bulungan. Masyarakat Punan Batu memahami bahasa daerah Bulungan. Meski mereka punya bahasa sendiri bahkan ada bahasa khusus untuk ritual mereka yang sampai hari ini tidak dimengerti oleh masyarakat Suku Bulungan.

“Mereka punya sejarah hubungan interaksi dengan orang Bulungan sejak zaman kesultanan. Jadi mereka paham bahasa kita (Bahasa Bulungan). Tapi mereka punya bahasa istimewa yang saya sendiri tidak tau, bahasa Lastalak namanya,”tuntasnya (dsh/red)

Bagikan

Tags

Berita Terkait