BULUNGAN, TANJUNGNEWS.COM – Geliat sektor perkebunan di Bumi Tenguyun terus dipacu agar naik kelas. Menyadari potensi besar emas cokelat di hilir daerah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan berkomitmen penuh mendongkrak kualitas dan produktivitas komoditas kakao sebagai salah satu motor penggerak ekonomi unggulan.
Komitmen nyata itu ditunjukkan melalui Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan yang menggelar pelatihan budidaya kakao dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Kegiatan yang menyasar Kelompok Tani Senguyun ini dipusatkan di Desa Metun Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, pada Selasa (5/5).
Menariknya, agenda ini dikemas interaktif lewat skema sekolah lapang sejak pagi hari. Para petani tidak hanya disuapi materi di dalam ruangan, melainkan diajak terlibat aktif dalam ruang diskusi hingga praktik langsung di hamparan kebun. Antusiasme para petani pun pecah saat mereka saling berbagi pengalaman lapangan dan mengupas tuntas kendala budidaya.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Bulungan, Yuniarti Utami, menjelaskan bahwa esensi utama dari sekolah lapang ini adalah mentransfer pengetahuan berkelanjutan demi meningkatkan kapasitas para petani lokal dalam mengelola kebun kakao mereka.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap pengetahuan dan keterampilan petani semakin meningkat. Khususnya dalam penerapan budidaya kakao yang baik (Good Agricultural Practices) serta bagaimana mengendalikan OPT secara efektif di lapangan,” jelas Yuniarti.
Sebagai pelecut semangat, Dinas Pertanian tidak datang dengan tangan kosong. Pihaknya turut menyerahkan sejumlah bantuan stimulan kepada Kelompok Tani Senguyun guna mendorong akselerasi pengembangan sektor perkebunan kakao di wilayah Tanjung Palas Timur.
Demi memperkuat fondasi keilmuan petani, panitia turut mendaratkan tenaga ahli dari PT Pesona Khatulistiwa Nusantara (PKN), Wagiyo. Dalam paparannya, ia menyoroti titik lemah yang kerap diabaikan petani, yakni persoalan kualitas pascapanen.
“Di lapangan, kita masih sering temukan biji kakao yang belum kering sempurna saat dijemur, sehingga sangat berpotensi berjamur. Idealnya, kadar air harus ditekan hingga menyentuh angka sekitar 5 persen agar kualitas aroma dan rasanya tetap terjaga di pasar,” urai Wagiyo.
Tak hanya itu, Wagiyo juga membagikan resep rahasia terkait teknik penyimpanan yang tepat dengan menjaga suhu ideal gudang di angka 25 derajat celsius. Ia juga mewanti-wanti petani agar mulai beralih memanfaatkan bahan organik demi menjaga kelestarian hara tanah.
“Penggunaan pupuk kimia harus diimbangi dengan bahan organik secara bijak. Ini penting agar struktur tanah tidak rusak dan tanaman kakao bisa berumur panjang serta lebih sehat,” tambahnya sembari mengingatkan petani untuk jeli mendeteksi gejala serangan penyakit, seperti fenomena daun menguning.
Suntikan motivasi kian berlipat dengan hadirnya Wakil Bupati Bulungan, Kilat, A.Md, yang datang didampingi istri. Orang nomor dua di Bulungan ini bahkan rela masuk kebun demi meninjau langsung hasil panen kakao milik warga setempat.
“Kakao ini merupakan komoditas unggulan bernilai ekonomi tinggi di pasar domestik maupun global. Saya berharap petani di Bulungan, khususnya di Desa Metun Sajau, terus semangat, konsisten, dan serius dalam mengelola potensi ini,” ujar Wabub Kilat memompa semangat warga.
Wabub juga berpesan agar ilmu mahal yang didapatkan dari para ahli selama pelatihan tidak menguap begitu saja setelah acara selesai.
“Terapkan ilmu yang didapat di kebun masing-masing. Kalau ilmunya dipakai, hasil produksi pasti meningkat, dan otomatis kesejahteraan keluarga petani ikut terangkat,” pesannya mendalam.
Di penghujung acara, Wakil Bupati bersama jajaran Dinas Pertanian secara simbolis menyerahkan bantuan berkelanjutan kepada kelompok tani. Melalui sinergi kuat antara pemda, dukungan tenaga ahli swasta, dan militansi petani di lapangan, kakao Bulungan diharapkan mampu berbicara banyak di tingkat nasional dan memperkokoh pilar ekonomi daerah. (adv)





