MALINAU,TANJUNGNEWS.COM – Jauh di pedalaman Desa Long Sule dan Long Pipa, tradisi berburu yang diwariskan nenek moyang etnis Dayak Punan Aput, salah satu suku Dayak yang dikenal piawai dalam perburuan, masih bertahan meski dihadapkan pada gempuran alat modern.
Namun, harapan untuk menyaksikan perburuan tradisional menggunakan sumpit di desa ini sempat pupus. Sebagian besar lelaki Punan kini berburu dengan peralatan modern, seperti senapan angin, tombak besi, dan pisau, dibantu anjing pemburu.
”Saya adalah generasi pertama yang mengenal senjata modern untuk berburu. Sebelumnya, orang tua kami hanya mengandalkan sumpit,” terang Idum seorang warga Long Sule dari etnis Dayak Punan Aput.
Meski demikian, Idum menyebutkan bahwa tradisi berburu dengan sumpit masih dipertahankan oleh segelintir orang tua di desa, salah satunya adalah Kakek Luling.
Hal ini memicu penelusuran untuk menemukan Kakek Luling dan mendalami rahasia senjata warisan tersebut.
Racun Getah Kayu Tajom: Senjata Tanpa Ampun
Kakek Luling menyambut baik dan membeberkan detail pembuatan serta daya mematikan sumpit tradisional mereka.
”Pembuatan sumpit ini kayu racunnya (pohon Tajom) dari nenek moyang. Anak sumpit dibuat dari lidi enau, diraut runcing, dan dikasih guratan dalam minimal tiga ruas,” jelas Kakek Luling.
Guratan ini, katanya, berfungsi vital: memastikan anak sumpit mudah patah dan tertinggal di dalam tubuh buruan atau musuh, sehingga racun dapat menyebar ke aliran darah.
”Mata anak sumpit yang menancap dan telah dicampuri racun tadi menyebar ke darah. Hitungan menit, orang atau binatang bisa langsung mati,” tegasnya.
Racun mematikan ini bersumber dari getah pohon Tajom (atau ‘kayu racun’). Kakek Luling menjelaskan prosesnya yang rumit:
Dijelaskan kakek Luling, cara mengambil getah, kulit pohon Tajom disadap.
Getahnya ditampung dengan bambu, kemudian dimasak bersama daun Biru (sejenis daun pelem). Setelah membeku, racun ini dimasak lagi dengan air saat ingin digunakan, lalu dioleskan ke ujung anak sumpit.
Dampak racun ini sangat cepat. Dalam jarak tempuh anak sumpit yang bisa mencapai 40 meter, racun yang mengenai darah diklaim tidak memiliki penawar.
”Kalau kena darah paling lama 30 menit langsung mati, sesuai cerita orang tua. Kalau kena orang, hitungan menit langsung mati,” ucap Kakek Luling
”Sampai sekarang kami juga tidak tahu apa penawarnya. Orang Punan sendiri tidak tahu penawarnya, sehingga kita harus hati-hati cara pakainya.”
Sumpit: Penjaga Tradisi dan Pertahanan Diri
Meski perburuan kini didominasi senapan angin, sumpit tetap dipertahankan sebagai artefak budaya dan senjata pertahanan terakhir.
Kakek Luling mengaku, para orang tua Punan masih menyimpan sumpit
”sebagai jaga-jaga kalau ada orang jahat.”
Ia juga mengungkapkan sisi gelap dari sejarah sumpit di masa lalu, yang kini menjadi kisah peringatan:
“Jaman dulu memang pekerjaan mereka (nenek moyang), apabila tidak tahu bahasa di sumpit. Meskipun sesama Punan, namun tidak mengetahui bahasanya biasanya langsung di sumpit.”
”Kami yang tua tetap pertahankan ini. Ketika ada musuh, inilah harapan kita,” pungkasnya. “Sumpit dapat digunakan untuk menyergap orang secara sembunyi-sembunyi karena musuh tidak akan tahu arahnya dari mana.”
Sumpit, dengan keahlian pembuatannya yang memakan waktu hingga satu minggu untuk melubangi batang kayu kerasnya, kini perlahan menjadi kenangan.
Generasi muda Punan lebih memilih alat modern, namun kisah tentang keampuhan getah pohon Tajom akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Dayak Punan Aput.(dsh/red)
Penulis:Dedi Suhendra :Tanjungnews.com





