TANA TIDUNG, TANJUNGNEWS.COM – Usia 85 tahun bukan sekadar angka bagi Desa Sedulun. Dibalik perjalanan panjangnya, tersimpan nilai-nilai adat, persaudaraan
dan kebersamaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Nilai-nilai itulah yang kembali dihidupkan melalui rangkaian
Madong Utok Tabai Balai Adat di Desa Sedulun, Kecamatan Sesayap,
Kabupaten Tana Tidung, Jumat (28/8).
Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Utara (Kaltara), Ingkong Ala, S.E.,
M.Si., hadir dalam kegiatan tersebut bersama Wakil Bupati (Wabup) Tana
Tidung, Sabri, S.Pd., dan jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan
(Forkopimcam).
Kehadiran Wagub Ingkong disambut dengan penyematan Sesingal, ikat
kepala khas Kaltara oleh tokoh adat Desa Sedulun. Rangkaian kegiatan
kemudian dilanjutkan dengan pemukulan gong oleh Wagub Ingkong didampingi
Wabup Sabri sebagai tanda diresmikannya Balai Adat dan Kantor Desa
Sedulun.
Prosesi tersebut dilanjutkan dengan ritual doa sebagai bagian dari
rangkaian Madong Utok Tabai. Tradisi ini memiliki makna sebagai proses
membersihkan diri dan membuang hal-hal yang tidak baik, sekaligus
menjadi bentuk doa kepada Sang Pencipta.
Dalam kesempatan itu, Wagub Ingkong menyampaikan selamat atas
pelaksanaan Madong Utok Tabai sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-85
Desa Sedulun. Ia berharap desa tersebut terus berkembang, semakin maju
dan mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
“Semoga Desa Sedulun semakin maju, pelayanan kepada masyarakat
semakin baik, dan terus berkontribusi dalam pembangunan Tana Tidung dan
Kalimantan Utara,” kata Ingkong.
Menurutnya, Madong Utok Tabai memiliki pesan penting bagi kehidupan
masyarakat. Tradisi tersebut tidak hanya menjadi bagian dari warisan
budaya, tetapi juga mengajarkan pentingnya berkumpul, memperkuat
silaturahmi dan menjaga persaudaraan.
“Melalui tradisi ini, kita diingatkan untuk terus menjaga budaya yang diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.
Ingkong menilai keberadaan Balai Adat juga memiliki arti penting
sebagai ruang bersama bagi masyarakat. Di tempat tersebut, warga dapat
duduk bersama, bermusyawarah dan mencari jalan keluar atas berbagai
persoalan yang dihadapi desa.
“Di meja adat tidak ada perbedaan. Kita semua adalah warga Desa
Sedulun. Kalau ada persoalan, mari diselesaikan dengan duduk bersama dan
bermusyawarah,” jelasnya.
Selain adat, Ingkong juga menyoroti peran Kantor Desa Sedulun sebagai
tempat pelayanan publik yang paling dekat dengan masyarakat. Pemerintah
desa menjadi salah satu ujung tombak dalam mengawal berbagai program
pembangunan agar dapat dirasakan langsung oleh warga.
Karena itu, ia menyampaikan apresiasi kepada kepala desa, perangkat
desa dan lembaga adat yang selama ini bersama-sama menjaga kehidupan
masyarakat. Menurutnya, pemerintahan dan adat merupakan dua pilar yang
dapat saling menguatkan dalam membangun desa.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara, lanjut Ingkong, berkomitmen
mendukung pembangunan hingga tingkat tapak. Penguatan kerja sama antara
pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah desa, lembaga adat
dan seluruh pemangku kepentingan perlu terus dilakukan agar pembangunan
semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Namun, pembangunan juga harus berjalan seiring dengan upaya menjaga
lingkungan. Ingkong mengajak masyarakat Desa Sedulun untuk bersama-sama
menjaga hutan, melindungi sungai dan merawat adat istiadat yang
dimiliki.
“Alam dan budaya adalah kekayaan Kaltara. Mari kita jaga bersama agar tetap menjadi warisan bagi generasi berikutnya,” pesannya.
Dari Balai Adat Sedulun, pesan itu terasa sederhana tetapi kuat yaitu
pembangunan boleh terus bergerak maju, tetapi persaudaraan, adat dan
alam harus tetap menjadi bagian dari perjalanan masyarakat.
Di usia ke-85, Desa Sedulun tidak hanya merayakan bertambahnya usia.
Desa ini juga kembali mengingatkan bahwa masa depan dibangun bersama
dengan menjaga apa yang diwariskan dan merawat kebersamaan yang menjadi
kekuatan masyarakat. (dkisp)





