TANJUNGNEWS.COM —Di sudut Pujasera Tanjung Selor yang biasanya ramai dengan aroma makanan dan obrolan, terdapat sebuah kios yang menyimpan keheningan masa lalu.
Di sana, dikelilingi tumpukan kotak piringn plastik penuh warna, Pak Thamrin duduk menunggu.
Ia bukan penjual makanan, melainkan penjual kaset VCD dan DVD, profesi yang diyakininya kini hanya ia sendiri yang menjalankannya di seluruh ibu kota provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).
“Saya sendiri. Tidak ada yang lain,” ujar Pak Thamrin sambil menyeka debu tipis dari sampul kaset bergambar musisi jadul.
Matanya memancarkan campuran rasa bangga dan kegetiran terhadap zaman yang terus berlari.
Lapak Pak Thamrin bukan sekadar tempat berdagang; ini adalah stasiun relay hiburan bagi mereka yang terlupakan oleh infrastruktur modern.
”Kalau orang-orang yang model jauh dari jangkauan Wi-Fi atau parabola, mungkin dia orang masih pakai yang ginian,” jelasnya.
Pelanggannya datang dari jauh: Sekatak, Malinau, bahkan dari hulu, wilayah-wilayah di mana internet masih menjadi barang mewah.
Di sana, sekeping VCD berisi film atau lagu pop kenangan adalah satu-satunya jendela menuju dunia luar.
“Pokoknya yang jauh dari jangkauan, istilahnya internet,” tegasnya.
Setia Berjualan Selama 44 Tahun Dari Kaset Pita hingga VCD
Langkanya VCD di pasaran tidak membuat Pak Thamrin menyerah. Ia adalah pejuang media fisik sejati. Jika bisnis VCD baru ia mulai sekitar 2003-2005, total pengalamannya berjualan kaset sudah dimulai sejak tahun 1981 atau sekitar 44 tahun.
“Waktu masih ramai-ramainya dulu, ya semua laku. Tidak ada yang pilih,” kenangnya, senyum tipis tersungging di bibirnya mengingat masa keemasan video compact disk—ketika koleksinya, dari film laga hingga lagu pop melow, berpindah tangan dengan cepat.
Kini, permintaan memang tidak seramai dulu, namun koleksinya tetap lengkap. Dari lagu-lagu jadul yang membangkitkan nostalgia, hingga lagu pop yang dirilis mendekati tahun 2020-an, semua ada.
Ia bahkan menjadi “penolong” bagi teman-teman seperjuangan yang sudah gulung tikar, membantu menjualkan sisa stok mereka.
“Terakhir ini pun teman saya minta bantu jual juga barang. Tolonglah, saya bilang, bilang-bilang bantu lah saya,” ucapnya, menunjukkan solidaritas sesama pedagang.
Harga Sebuah Kenangan Masa Lampau
Pak Thamrin menjual kaset-kasetnya seharga Rp20.000 untuk satu kaset, atau Rp50.000 untuk tiga kaset.
Harga yang relatif stabil, namun ia membenarkan: “Karena kan sudah langka.” Bagi pembeli dari pedalaman, ini adalah investasi hiburan yang jauh lebih murah dan pasti daripada mencari paket data yang mahal di wilayah blank spot.
Lapak Jualan Harta Terakhir Yang Dimiliki
Uniknya, Pak Thamrin tak hanya menjadikan lapak ini sebagai tempat usaha. Ia juga menjadikannya rumah, karena saat ini hanya lapak jualanya lah satu-satunya tempat berteduh.
“Saya juga tidur di sini juga, kan, karena masih enggak punya rumah lagi,” katanya polos.
”Peminat ataupun mau yang membeli kaset, silakan datang. Sampai kapan pun saya siap… terbuka 2×24 jam.”
Pengen Beralih Usaha Terkendala Modal
Ia berharap suatu saat bisa memiliki modal untuk merambah usaha lain, namun selama pelanggannya dari pelosok masih datang mencari musik dan film di balik kepingan plastik mengkilap, ia akan tetap di sana—siap melayani, kapan saja, 24 jam sehari.(dsh/red)
Penulis: Dedi Suhendra/Tanjungnews.com





