BULUNGAN, TANJUNGNEWS.COM – Deru mesin perahu ketinting yang biasanya membelah Sungai Kayan kini kian sayu, bahkan nyaris tak terdengar lagi. Sudah empat tahun lamanya, ajang balap ketinting yang menjadi salah satu tradisi dan hiburan favorit masyarakat Bulungan, Kalimantan Utara (Kaltara), mati suri.
Kondisi memprihatinkan ini memicu kekhawatiran mendalam dari para pencinta olahraga air lokal. Ketua Komunitas Balap Ketinting Bulungan, Ilham, mengungkapkan rasa rindunya agar riuh kompetisi adu cepat perahu tradisional ini bisa kembali dihidupkan oleh pemerintah daerah.
”Sudah sekitar empat tahun berlalu sampai sekarang, tidak ada lagi balap ketinting. Harapan kami dari komunitas, bagaimana caranya pemerintah bisa menghidupkan kembali wadah bagi para penghobi ini,” ujar Ilham kepada Tanjungnews, Senin (29/6/26)
Menurut Ilham, hilangnya ajang ini sangat terasa di momen-momen besar daerah. Jika dulu balap ketinting menjadi menu wajib yang paling dinanti dalam perayaan Hari Jadi Kota Tanjung Selor dan Kabupaten Bulungan (Birau) serta peringatan HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus, kini kemeriahan itu seolah lenyap ditelan bumi.
”Kita lihat dari tahun ke tahun, di ajang Birau sudah tidak ada, di acara 17 Agustus juga sudah tidak ada. Padahal ini bisa jadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat pemuda Kaltara,” sesalnya.
Siapkan SOP Ketat demi Keamanan Arena
Redupnya gairah balap ketinting di Bulungan memang dipicu oleh insiden kecelakaan tragis di arena balap Sekatak beberapa tahun silam. Kejadian kelam tersebut sempat memunculkan trauma dan membuat izin pelaksanaan event menjadi sangat ketat.
Memahami kecemasan tersebut, Ilham menegaskan bahwa pihak komunitas tidak tinggal diam. Mereka berkomitmen untuk berbenah total dan menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jauh lebih aman demi menjamin keselamatan, baik bagi pembalap maupun penonton.
”Kami dari komunitas siap menyusun SOP agar jalannya balapan lebih safety. Mulai dari segi arena, teknis balapan, hingga alat keselamatan yang wajib dipakai peserta, seperti helm dan life jacket (jaket pelampung). Track-nya juga semua kita atur dan susun rapi supaya tidak ada lagi kejadian seperti di arena Sekatak dulu,” tegasnya.
Peserta Latihan Bersama Menyusut Drastis
Dampak dari vakumnya kompetisi resmi ini dirasakan langsung pada aktivitas mingguan komunitas. Ilham menceritakan, antusiasme para pencinta ketinting kini berada di titik nadir akibat minimnya panggung untuk menyalurkan bakat.
”Sekarang olahraga ini mulai redup, mulai punah. Setiap hari Minggu kami sebenarnya masih mengadakan latihan bersama. Dulu sebelum ada kejadian (Sekatak) itu, peserta latihan bisa sampai puluhan. Sekarang? Cuma tersisa 7 peserta saja yang turun,” ungkap Ilham dengan nada getir.
Melalui Tanjungnews, Komunitas Balap Ketinting Bulungan mengetuk pintu hati pemerintah daerah dan para pemangku kebijakan agar tidak membiarkan salah satu kearifan lokal Kaltara ini punah begitu saja.
”Harapan besar kami, semoga ini menjadi catatan penting bagi pemerintah. Agar di setiap momen Birau atau perayaan 17 Agustus mendatang, event balap ketinting bisa diadakan lagi,” pungkasnya.(dsh/red)





