Nadi Terakhir Tambangan Sungai Kayan: Bertahan di Tengah Kemajuan Zaman

Redaksi


​Oleh: Dedi Suhendra


​TANJUNG SELOR – Deru mesin ketinting memecah keheningan Sungai Kayan siang itu. Di atas perahu kayu yang bergoyang pelan dihantam riam kecil, jemari legam Yusran (52) erat mencengkeram kemudi. Matanya menatap nanar ke arah bentang megah Jembatan Merdeka (Bulu Perindu) yang berdiri kokoh di kejauhan.


​Jembatan yang menjadi simbol kemajuan infrastruktur itu, perlahan namun pasti, justru mulai memutus urat nadi kehidupan para motoris perahu tambangan.


​Bagi Yusran dan segelintir rekannya yang masih bertahan di dermaga Tepian Sungai Kayan, kehadiran Jembatan Bulu Perindu dan terhubungnya jalur darat ke kawasan PLTU ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi mempermudah mobilitas warga, namun di sisi lain, ia menjadi “lonceng kematian” bagi eksistensi perahu tambangan tradisional Tanjung Selor – Tanjung Palas.


​”Semenjak jembatan itu jadi, otomatis penghasilan kami di sini merosot tajam. Sepi sekali sekarang, Pak,” keluh Yusran saat berbincang hangat di atas perahunya, sembari menyeka keringat yang menetes di dahi.


​Warisan Sejak Zaman Kesultanan Bulungan yang Kian Sekarat


​Perahu tambangan bukan sekadar alat transportasi air musiman. Jauh sebelum deru mesin ketinting dikenal, riak Sungai Kayan telah menjadi saksi bisu hilir mudik perahu dayung tradisional ini sejak zaman Kesultanan Bulungan.


​Selama berabad-abad, tambangan adalah satu-satunya urat nadi sakral yang menghubungkan pusat peradaban di Tanjung Palas tanah para bangsawan dengan pusat pertumbuhan ekonomi baru di Tanjung Selor.

Baca Juga  Pulang dalam Keadaan Terbaik: Datu Idris Wafat Saat Mengimami Salat Magrib di Rumah Jabatan Bupati Bulungan


​Dari generasi ke generasi, para motoris menyambung napas sejarah, menjaga agar tradisi menyeberang sungai ini tidak lekang oleh waktu. Namun kini, nilai historis dan sisa-sisa kejayaan masa lalu itu seolah tidak berdaya melawan kepungan beton jembatan dan aspal darat.


​Dulu Setengah Juta, Kini Cari Seratus Ribu Saja Berdarah-darah


​Pria paruh baya ini kemudian melempar pandangannya ke masa lalu. Masa-masa jaya di mana lembaran rupiah begitu bersahabat dengan kantong para motoris.
​”Dulu, sebelum ada jembatan itu, bawa pulang Rp 500 ribu bersih dalam sehari itu hal biasa. Normal sekali,” kenang Yusran dengan mata berbinar sesaat.


​Namun kini, roda nasib berputar drastis ke bawah. Nominal setengah juta itu kini tinggal cerita pengantar tidur. Untuk sekadar menyentuh angka Rp 100 ribu per hari, Yusran harus mengurut dada.


​”Sekarang? Dapat Rp 100 ribu saja kadang-kadang, lebih seringnya malah di bawah itu. Paling banter Rp 150 ribu kalau lagi beruntung. Itu pun habis untuk beli solar dan makan siang di dermaga. Untuk dibawa pulang ke rumah, sisanya mepet sekali,” tuturnya dengan nada lirih.


​Pahitnya realitas ekonomi ini berdampak karambol. Jangankan berpikir untuk menabung demi masa depan keluarga atau menyisihkan modal jika mesin ketinting-nya tiba-tiba ngadat, untuk urusan perawatan armada pun mereka sudah angkat tangan.

Baca Juga  26 Tahun Bersama Golkar, Syarwani Berkontribusi Aktif Membangun Kaltara

Yusran membeberkan, harga satu unit perahu tambangan baru saat ini berkisar antara Rp 15 juta hingga Rp 20 juta, lengkap dengan biaya pengecatan dan kesiapan operasionalnya.


​”Kalau dulu, kami masih bisa beli perahu baru dari hasil menabung. Sekarang? Boro-boro mau beli perahu atau perbaiki mesin rusak, buat belanja dapur hari-hari saja sudah megap-megap. Kami benar-benar tidak bisa menyimpan uang lagi,” keluhnya.

Eksodus Massal: Dari 40 Perahu, Kini Tersisa 11


​Hantaman keras ini membuat dermaga tambangan kian lengang. Satu per satu sejawat Yusran memilih “gantung kemudi”. Berdasarkan data yang diingatnya, penyusutan jumlah armada tambangan terjadi begitu masif.


​Dulu, ada sekitar 40 unit perahu tambangan yang hilir mudik mewarnai lanskap Sungai Kayan, menciptakan harmoni budaya lokal yang khas. Kini, pemandangan itu menyusut drastis. Hanya tersisa sekitar 11 perahu saja yang masih setia bertahan, itu pun dengan jadwal tunggu penumpang yang makin lama dan menjemukan.


​”Kondisinya memang sepi begini. Teman-teman yang lain sudah banyak yang kapok. Ada yang memilih pergi ke laut jadi nelayan, ada juga yang beralih profesi jadi tukang bangunan. Apa saja dilakukan, karena kalau bertahan di sini terus, penghasilannya sudah tidak memadai lagi untuk menghidupi anak-istri,” ungkapnya.

Baca Juga  ‎Getah Kayu Tajom Rahasia Sumpit Mematikan Warisan Dayak Punan:‎ Masuk Darah 30 Menit Langsung Mati


​Menagih Solusi Pemkab: Jangan Biarkan Identitas Daerah Punah


​Kini, harapan terakhir para motoris perahu tradisional ini digantungkan pada pundak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan. Yusran dan rekan-rekannya sangat berharap ada tangan dingin dari jajaran pengambil kebijakan untuk turun ke dermaga dan melihat langsung jeritan hati mereka.


​Mereka tidak menolak kemajuan zaman atau pembangunan jembatan, namun mereka mengetuk pintu hati pemerintah daerah agar memberikan solusi yang berkesinambungan. Jika dibiarkan tanpa intervensi, lambat laun transportasi air yang bernilai sejarah tinggi ini akan lenyap dari peradaban Bulungan.


​”Harapan kami buat Pemerintah Kabupaten, supaya tolong perhatikan kami. Bagaimana solusi mereka untuk kami ini bisa tetap berkesinambungan terus mencari nafkah,” pinta Yusran.


​Lebih dari sekadar urusan isi perut, Yusran mengingatkan bahwa perahu tambangan adalah simbol identitas budaya masyarakat Kesultanan Bulungan yang bermukim di sepanjang Sungai Kayan.


​”Karena kalau tambangan ini sampai musnah, otomatis budaya lokal daerah ini juga akan punah, Pak. Jadi bagaimana pemerintah memikirkan nasib kami ke depan. Mungkin pemerintah bisa memancing kami, memberi bantuan dana stimulus untuk peremajaan perahu-perahu baru ini. Kami hanya ingin terus berlanjut, ingin tradisi legendaris ini tetap hidup di Sungai Kayan,” pungkasnya penuh harap, menyuarakan asa yang tersisa di tengah kepungan modernisasi.(dsh/red)

Bagikan

Tags

Berita Terkait