KRAYAN, TANJUNGNEWS.COM– Kondisi infrastruktur jalan di wilayah perbatasan Kalimantan Utara lagi-lagi menuai sorotan tajam. Sebuah video yang memperlihatkan perjuangan dramatis warga Krayan Selatan saat hendak menghadiri acara pernikahan di Krayan Induk mendadak viral di media sosial.
Warga terpaksa berjibaku dengan lumpur, mencangkul jalan, hingga berjalan kaki berjam-jam akibat akses jalan yang rusak parah.
Mafri Kornelius, salah seorang warga Krayan yang menyaksikan langsung kondisi tersebut, mengungkapkan rasa prihatin dan kekecewaannya. Ia membagikan potret betapa perihnya perjuangan masyarakat di beranda terdepan NKRI tersebut hanya untuk saling bersilaturahmi.
”Tolong diviralkan video ini. Ini masyarakat Krayan Selatan ikut acara nikah di Krayan. Berangkat jam 09.00 pagi, baru tiba di Krayan jam 21.00 malam. Itupun sepanjang jalan harus sambil cangkul-cangkul untuk tutup kubangan lumpur karena tidak bisa dilewati mobil,” ungkap Mafri dengan nada getir.
Mafri menceritakan, perjalanan yang seolah tanpa akhir itu terpaksa ditempuh secara estafet. Setibanya di batas wilayah antara Krayan Selatan dan Krayan Barat, kendaraan yang mereka tumpangi sama sekali tidak bisa bergerak akibat terjebak kubangan lumpur yang dalam.
Tak punya pilihan lain, rombongan warga akhirnya memilih turun dan berjalan kaki menembus medan yang berat. Mereka harus berjalan kaki selama kurang lebih 6 jam dari perbatasan Krayan Selatan menuju Krayan Barat. Selama perjalanan, warga berinisiatif mencangkul tanah seadanya demi menutup kubangan agar bisa membuka celah jalan. Setelah berhasil menembus Krayan Barat dengan berjalan kaki, mereka baru bisa dijemput oleh mobil bantuan dari Krayan Induk.
Kondisi infrastruktur yang hancur lebur ini kian memperparah urat nadi perekonomian warga Krayan. Buruknya akses jalan berdampak langsung pada meroketnya harga kebutuhan pokok atau sembako di wilayah perbatasan, yang selama ini memang sangat bergantung pada kelancaran jalur logistik.
Mewakili suara hati masyarakat, Mafri menyampaikan pesan menohok yang ditujukan langsung kepada penentu kebijakan di Jakarta. Masyarakat perbatasan mengaku sudah lelah terus-menerus menghadapi ketimpangan pembangunan infrastruktur dasar.
”Kami mengharap pemerintah pusat buka telinga dan buka matanya untuk mendengar seruan orang-orang di perbatasan. Masyarakat saat ini sudah tidak berdaya dengan melambungnya harga sembako,” tegas Mafri menutup keterangannya.
Hingga berita ini diturunkan, video perjuangan warga Krayan tersebut terus mendapat simpati dan sorotan dari netizen di Kalimantan Utara. Banyak pihak mendesak adanya tindakan nyata dari pemerintah daerah maupun pusat agar komitmen membangun dari pinggiran benar-benar dirasakan oleh masyarakat perbatasan. (dsh/red)





