‎Nestapa Sopir Logistik di Kaltara: Seminggu Hidup di Truk demi Setetes Solar

Redaksi

TANJUNG SELOR – Terik matahari Kalimantan Utara (Kaltara) membakar aspal jalanan, namun bagi Taufik, panasnya kabin truk sudah menjadi rumah keduanya selama hampir sepekan terakhir.

Sopir truk logistik asal Samarinda, Kalimantan Timur ini, hanya bisa menatap nanar barisan antrean kendaraan yang mengular panjang di depan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Sabanar.


Ia adalah satu dari sekian banyak pahlawan roda empat yang terpaksa gigit jari. Niat hati mengantar pasokan logistik demi menyambung urat nadi perekonomian di utara Kalimantan.

Apa daya, roda distribusi logistik harus mogok akibat peliknya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Solar bersubsidi.

“Empat Hari Sama Sekali Tak Dapat Solar,”ujarnya.

Baca Juga  Memuliakan Orangtua Kunci Sukses dalam Karir Bupati Bulungan Syarwani

Dengan gurat lelah yang mendalam di wajahnya, Taufik mengisahkan bagaimana perjuangannya berubah menjadi penderitaan sejak memasuki awal bulan ini.

Alur distribusi yang melambat kini benar-benar mencekik para sopir logistik antar provinsi.

“Minggu, Senin, Selasa, Rabu… empat hari saya sama sekali tidak dapat Solar, Pak! Gara-gara susah ini. Mulai bulan ini yang tadinya (distribusi) agak lambat, sekarang malah parah,” keluh Taufik saat ditemui Tanjungnews di sela-sela antrean kendaraan.

Bagi seorang sopir logistik, waktu adalah uang. Namun kini, waktu mereka habis menguap di atas trotoar dan bahu jalan, menunggu kepastian kapan nosel pengisian Solar kembali mengalir.

Bertahan Hidup di Dalam Kabin Truk

‎​Bukan sehari dua hari Taufik terdampar. Perjalanan jauh dari Samarinda yang harusnya bisa diselesaikan dalam hitungan hari, kini membengkak tanpa kepastian.

Baca Juga  Pulang dalam Keadaan Terbaik: Datu Idris Wafat Saat Mengimami Salat Magrib di Rumah Jabatan Bupati Bulungan

Biaya operasional membengkak, sementara uang saku kian menipis. Untuk menghemat pengeluaran, Taufik dan rekan-rekannya terpaksa menjadikan truk mereka sebagai tempat tidur sekaligus tempat tinggal sementara.

“Sudah hampir satu minggu kita ini terlantar. Kita tidur sudah di mobil terus, Pak. Ya, di dalam mobil ini sudah kehidupan kita (selama mengantre),” tuturnya lirih.

Bayang-bayang keluarga di Samarinda yang menunggu setoran nafkah menjadi beban pikiran yang tak kalah berat dibanding mesin truk yang mendingin. Berharap bisa pulang membawa hasil, mereka justru terjebak dalam pusaran kelangkaan BBM yang tak kunjung usai di Kaltara.

‎​Taufik mewakili suara hati ratusan sopir logistik lainnya yang menggantungkan hidup dari jalur darat Trans-Kalimantan.

‎ Jika pasokan logistik terhambat, dampaknya bukan hanya pada isi dompet mereka, melainkan juga pada stabilitas harga barang pokok di Kaltara yang berpotensi meroket.

Baca Juga  26 Tahun Bersama Golkar, Syarwani Berkontribusi Aktif Membangun Kaltara

‎​Ia pun berharap pemerintah daerah dan instansi terkait tidak tutup mata melihat jeritan di jalur logistik ini. Penambahan kuota atau pembenahan sistem distribusi Solar subsidi di Kaltara dinilai sudah sangat mendesak.

‎​”Ya kalau bisa (kuota Solar) ditambahi lah, Pak. Supaya kita ini, kalau dari Samarinda bisa cari nafkah ke sini, bisa diharapkan dapat (Solar). Ini empat hari, empat hari lho Pak kita tertahan. Harusnya kan bisa jalan terus,” pungkasnya penuh harap.

‎​Hingga berita ini diturunkan, antrean kendaraan roda enam ke atas masih tampak mengular di sejumlah SPBU di Kaltara.

‎Menjadi pemandangan kontras di tengah status Kaltara sebagai provinsi beranda depan NKRI yang kaya akan potensi, namun masih terseok-seok urusan bahan bakar bagi para penggerak ekonominya (dsh)

‎Penulis: Dedi Suhendara

Bagikan

Tags

Berita Terkait