MEREKA kira penderitaan rakyat Indonesia hanya bercanda, di tengah sulitnya mencari pekerjaan.
Sepinya pembeli bagi pengusaha kelas menengah hingga UMKM level terbawah, karena lesunya ekonomi Indonesia.
Disisi lain, Pemerintah Republik ugal-ugalan membidik ladang baru pajak dari berbagai sendi kehidupan masyarakat.
Bahkan besaran pajak kian dinaikkan untuk menutupi defisit APBN untuk memenuhi syahwat “populis” yang sebenarnya gak dibutuhkan rakyat.
Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah “makan” tapi bukan MBG. Tapi luaskan lapangan pekerjaan, ringankan pajak.
Jangan samakan pajak dengan zakat, yang hanya orang kaya yang memenuhi kadarnya yang wajib membayar.
Pajak menggorok leher si miskin untuk tetap membayar sejengkal tanah dan segenggam nasi ditanganya.
Ditengah panasnya hati rakyat karena kesusahan ekonomi yang semakin diperas.
Disisi lain, tanpa ada empatinya Istana bagi-bagi jabatan hingga penghargaan pada orang yang jasanya untuk rakyat dipertanyakan.
Kenaikan gaji wakil rakyat, di tengah kondisi masyarakat Indonesia yang tidak baik-baik saja.
Seperti tidak ada empatinya, atas penderitaan rakyat. Suara kritikan rakyat dianggap “becanda” bahkan para wakil rakyat menari kala penghasilan mereka ditambah.
Kritikan rakyat dianggap bercanda bagi mereka, sungguh tidak ada empatinya.
Ketika gelombang rakyat dan mahasiswa telah membara dan turun melabrak gedung wakil mereka, barulah mereka gugup gempita dan baru tersadar “ini bukanlah sebuah candaan”.
Beberapa abad silam, Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadis menyatakan
Ketika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.
Semoga Pemerintah Republik dan para wakil rakyat sadar ini bukan becanda ! Rakyat tidak butuh tarian-tarianmu yang menyempatkan mata.
Oleh: Dsh, Redaksional, Tanjungnews.com





