Modal Otodidak, Nano Sudarsono Sukses Ternak Puyuh Petelur Untung Rp 3 Juta per Bulan

Redaksi

Nano Sudarsono Peternak Burung Puyuh Kabupaten Bulungan
Nano Sudarsono Peternak Burung Puyuh Kabupaten Bulungan

BULUNGAN, TANJUNGNEWS.COM  – Siapa sangka, berbekal belajar mandiri lewat platform YouTube, seorang warga Kabupaten Bulungan berhasil menyulap lahan sempit menjadi mesin pencetak rupiah.

‎Dia adalah, Nano Sudarsono, sosok pembudidaya inspiratif yang kini sukses memutar roda ekonomi keluarganya lewat bisnis burung puyuh petelur.



‎​Memulai debutnya pada akhir Desember lalu, Nano merintis usahanya benar-benar tidak memiliki pengetahuan tentang beternak. Ia membeli Day Old Quail (DOQ) atau bibit puyuh yang baru menetas, lalu dengan telaten memeliharanya di dalam ruang penghangat (di-tiara).

‎​”Masuk usia 40 hari, puyuh-puyuh ini sudah mulai belajar bertelur,” ujar Nano membuka cerita kepada media ini.

Lahan Sempit, Untung Selangit

Menariknya, bisnis ini tidak muluk-muluk soal tempat. Nano membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang besar untuk memulai sebuah usaha produktif.

‎​”Untuk teman-teman yang berminat, tidak usah bingung soal lahan. Cukup ukuran 5×10 meter saja, itu sudah sangat ideal untuk memelihara sekitar 1.000 ekor puyuh,” bebernya memberikan tips.

‎​Bicara soal dapur produksi, Nano menjabarkan hitung-hitungan bisnisnya yang cukup menggiurkan.

‎Untuk kapasitas 1.000 ekor puyuh yang sudah produktif, menghabiskan sekitar setengah karung pakan (pur) per hari dengan biaya operasional sekitar Rp 250.000.

‎​Dari jumlah tersebut, Nano mampu memanen sekitar 10 piring telur per hari, atau setara dengan satu ikat.

‎Di pasaran lokal Bulungan, satu ikat telur puyuh dibanderol seharga Rp 400.000.

‎​”Jadi kalau dihitung bersih, dari omzet Rp 400.000 dikurangi biaya pakan Rp 250.000, masih ada untung Rp150.000 per hari. Kalau kondisi bertelurnya lagi bagus dan stabil, sebulan bisa mengantongi Rp3.000.000 bersih. Alhamdulillah, sangat membantu menopang ekonomi keluarga,” cetusnya dengan wajah sumringah.

‎​Tantangan Cuaca Ekstrem dan Karut-Marut Pakan

‎​Meski terlihat menjanjikan, perjalanan Nano bukannya tanpa kerikil tajam. Statusnya yang murni berstatus “peternak otodidak” membuatnya harus jatuh bangun menghadapi dinamika di lapangan.

‎Musuh utamanya saat ini ada dua: cuaca ekstrem dan stabilitas pakan.

‎​Kondisi cuaca Bulungan yang seringkali panas menyengat berimbas langsung pada produktivitas puyuh.

‎Tanpa adanya fasilitas pendingin seperti kipas angin di dalam kandang, puyuh mudah stres dan produktivitas telurnya langsung merosot.

‎​Tak hanya itu, ketergantungan pada stok pakan toko juga menjadi momok tersendiri. Ketika stok pur utama di agen terhambat, Nano terpaksa memutar otak mencari pakan alternatif.

‎​”Efeknya kalau pakan diganti-ganti atau berubah merek, produksi telurnya pasti langsung drop. Puyuh ini cukup sensitif,” keluhnya.

‎​Sinyal untuk Dinas Terkait

‎​Melihat potensi segmen UMKM peternakan yang menjanjikan ini, Nano berharap ada atensi lebih dari pemerintah daerah.

‎Hingga saat ini, ia mengaku belum pernah mendapatkan sentuhan penyuluhan dari instansi resmi.

‎​”Ke depan, besar harapan saya bisa berkonsultasi langsung dengan dinas terkait. Khususnya mengenai tata cara budidaya yang benar dan modern, serta solusi mengatasi kendala pakan. Saya yakin, kalau ini dibina dengan benar, hasilnya pasti jauh lebih maksimal,” pungkasnya optimis. (dsh/red)

Baca Juga  Perpres Rincian APBN TA 2025 Ditandatangi Presiden Prabowo

Bagikan

Tags

Berita Terkait