MALINAU, TANJUNGNEWS.COM– Barisan perempuan hebat memenuhi Gereja GKPI Imanuel Tanjung Lapang pada Minggu (19/4) pagi.
Kehadiran mereka bukan sekadar ibadah rutin, melainkan untuk mengukuhkan nakhoda baru Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kabupaten Malinau. Prosesi ini sekaligus menjadi penegasan bahwa kaum perempuan memiliki posisi tawar yang krusial dalam pembangunan daerah.
Bupati Malinau, Wempi W. Mawa, S.E., M.H., yang hadir langsung dalam pengukuhan tersebut, memberikan ucapan selamat sekaligus “tugas” besar bagi pengurus yang baru dilantik. Menurutnya, PWKI bukan hanya organisasi pelayanan di dalam gereja, tetapi juga mitra strategis bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malinau.
Wempi menyoroti betapa beratnya beban yang dipikul perempuan saat ini. Di era modern, mereka harus mampu menyeimbangkan peran ganda: sebagai istri yang mendukung suami, ibu yang mendidik anak, hingga profesional di dunia kerja.
“Peran ini memang tidak mudah, namun sangat vital. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, saya minta PWKI tetap menjaga integritas iman, kesederhanaan, dan kerendahan hati,” tegas Wempi dalam sambutannya.
Bijak di Era Digital
Selain urusan kerohanian, Bupati juga memberikan atensi khusus pada perkembangan teknologi informasi. Ia mengingatkan bahwa derasnya arus digital bisa menjadi pisau bermata dua. Kaum perempuan, terutama para ibu, dituntut melek teknologi namun tetap bijak dalam memanfaatkannya agar tidak berdampak negatif bagi ketahanan keluarga.
Lebih jauh, Wempi menantang PWKI untuk terjun langsung mengatasi berbagai persoalan sosial di Bumi Intimung. Ia tidak ingin organisasi wanita Kristen hanya sibuk dengan urusan internal, melainkan harus mampu menyentuh kebutuhan masyarakat luas.
“Organisasi ini harus hadir memberikan solusi nyata bagi persoalan sosial di masyarakat. Jadilah perpanjangan tangan kebaikan,” ungkapnya.
Menutup arahannya, Bupati mengajak seluruh elemen PWKI untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah. Baginya, peningkatan kesejahteraan masyarakat Malinau tidak bisa dikerjakan sendiri oleh pemerintah, melainkan butuh tangan-tangan kreatif dan penuh kasih dari organisasi perempuan seperti PWKI. (adv/hms)





