MALINAU,TANJUNGNEWS.COM- Penampilan Lembaga Adat Dayak Sa’ban jadi sorotan di Festival Budaya Irau ke-11 Kabupaten Malinau.
Mereka tampil memukau lewat atraksi budaya Phuwal, gulat tradisional khas suku Dayak Sa’ban.
Aksi para pria Dayak Sa’ban yang saling beradu kekuatan di Arena Irau, Padan Liu Burung, langsung menarik perhatian penonton.
Suasana semakin riuh ketika para peserta menampilkan gerakan khas yang menggambarkan ketangkasan dan semangat gotong royong.
Ketua Lembaga Adat Dayak Sa’ban Kabupaten Malinau, Pdt. Jhonson Pawang, mengatakan keikutsertaan mereka di Festival Irau merupakan bentuk rasa syukur dan komitmen melestarikan warisan leluhur.
“Festival Irau ini momentum bagi kami untuk memperkenalkan identitas budaya Dayak Sa’ban. Nilai-nilai adat dan kearifan lokal masih hidup dan terus dijaga,” ujarnya.
Selain atraksi Phuwal, masyarakat Dayak Sa’ban juga menampilkan tarian tradisional, musik kecapi raksana, serta patung ukiran khas.
Semua menjadi daya tarik tersendiri di tengah kemeriahan Festival Irau.
Menurut Jhonson, partisipasi mereka juga menjadi simbol persaudaraan antar-suku di Malinau.
“Kami ingin mendukung visi pemerintah menjadikan Malinau sebagai kabupaten yang rukun, damai, dan berbudaya,” tambahnya.
Bupati Malinau Wempi W. Mawa mengapresiasi penampilan masyarakat Dayak Sa’ban.
Menurutnya, keberagaman budaya menjadi kekuatan besar bagi daerah.
“Kehadiran Dayak Sa’ban dalam Irau ini bukti nyata bahwa budaya adalah perekat persaudaraan. Inilah semangat ‘Ira Malinau Rukun Damai Sejahtera’ yang terus kita jaga,” kata Wempi.
Festival Budaya Irau ke-11 tahun ini mengusung tema “Malinau: Negeri Sang Pengendali Air” dan menampilkan berbagai pertunjukan adat dari beragam etnis dan paguyuban di Kabupaten Malinau.(red)





