4 Desa di Bulungan Dilatih Menyusun Perencanaan Pembangunan Desa Pesisir Berkelanjutan

Redaksi

BULUNGAN,TANJUNGNEWS.COM– Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia bersama Pemkab menggelar Pelatihan Perencanaan Pembangunan Desa Pesisir Berkelanjutan pada Selasa (2/12/25).

Diikuti unsur perangkat dan masyarakat Desa Sekatak Buji, Sekatak Bengara, Salimbatu dan Liagu, di Hotel Royal Tarakan. Bupati Bulungan, Syarwani, S.Pd, M.Si didampingi Sekretaris Daerah, Risdianto, S.Pi, M.Si menjelaskan, kegiatan ini selaras dengan program prioritas kabupaten yang menekankan pembangunan hijau (green development).

Pelatihan berlangsung selama 3 hari ini bertujuan membantu desa mempersiapkan revisi dokumen perencanaan sesuai perubahan UU Desa, sekaligus meningkatkan kapasitas peserta dalam memahami konsep pembangunan berkelanjutan di pesisir.

Baca Juga  BPOM Ingatkan Bahaya Kosmetik Ilegal di Kaltara, Produk "Pemutih" Jadi Sorotan Utama

Para peserta dibekali materi tentang integrasi pengarusutamaan gender dan inklusi sosial dalam perencanaan desa. Lalu pemanfaatan potensi lokal dan keberlanjutan sumber daya pesisir. Pengelolaan mangrove yang berkeadilan dan responsif gender. Penyusunan RPJMDes yang memuat prinsip-prinsip keberlanjutan. Serta peningkatan peran perempuan dan kelompok rentan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya alam desa.

Bupati dalam sambutannya menegaskan, kemajuan Kabupaten Bulungan sangat tergantung pada kemajuan 10 kecamatan yang ada, termasuk desa-desa. Ia juga menyoroti pentingnya pelestarian mangrove sebagai bagian dari pembangunan pesisir. Menurutnya, meski banyak kawasan mangrove berada dalam area perhutanan, terdapat masyarakat yang menggantungkan hidup di sana sehingga diperlukan kebijakan yang memberikan ruang akses bagi warga pesisir.

Baca Juga  Pemkab Bulungan Kembangkan Kawasan Agrokompleks di Long Buang

Bupati juga menyinggung program One Village, One Product (OVOP) seperti di Desa Siandau dan Liagu yang menjadi bagian dari prioritas pembangunan daerah. Menurutnya, masyarakat dan perangkat desa memiliki tanggung jawab moral untuk turut menjaga ekosistem mangrove.

“Jangan ada penebangan atau perusakan mangrove. Manfaat ekonominya boleh kita ambil, tetapi kelestarian lingkungan tetap harus dijaga,” tegasnya. Dilanjutkan, masyarakat desa adalah pihak yang paling mampu menjaga kelestarian mangrove karena hidup berdampingan langsung dengan kawasan tersebut. Maka, pelatihan ini dianggap penting sebagai modal masyarakat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan.

Baca Juga  Langgar Aturan, Tim Gabungan Disperindagkop Sidak Lapak Pasar Induk

“Menjaga mangrove adalah amal jariah untuk anak-anak kita. Jika kita merawatnya hari ini, mereka akan merasakan manfaatnya di masa depan,” pesannya. Bupati pun menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pihak-pihak yang turut mendukung kegiatan ini, termasuk Kementerian Kehutanan, lembaga NASCLIM, GGGI, dan Pemerintah Kanada.

Bagikan

Tags

Berita Terkait